Minggu, 24 April 2011

Menata Emosi

Dalam sebuah peperangan, suatu ketika Khalifah Ali ra berhasil membuat salah satu musuh terjengkang. Saat itu beliau sudah siap menghunus pedangnya untuk memenggal musuhnya. Namun, tiba-tiba sang musuh meludahi wajah Ali ra. Tanpa disangka, beliau tidak jadi membunuh musuh itu, dan pergi begitu saja. Sang musuh menjadi heran dan bertanya-tanya, "Wahai Ali, mengapa engkau tidak membunuhku?" Ali kemudian menjawab, "Aku takut membunuhmu bukan karena Allah, melainkan karena ludahmu yang membuatku marah."

Subhanallah, dengan segala kuasa-Nya, Ali ra memutuskan mengelola emosi negatif dengan berpikir jernih mengenai sebab dan akibat timbulnya rasa marah yang membara.

Menurut penulis buku Psychology of Adjustment, Eastwood Atwater, mengartikan emosi sebagai suatu kondisi kesadaran yang kompleks, mencakup sensasi di dalam diri dan ekspresi ke luar yang memiliki kekuatan memotivasi untuk bertindak.  Emosi terdiri atas emosi positif dan emosi negatif. Gembira, heran, dan takjub adalah bagian dari emosi negatif. Sedangkan marah, benci, ngeri, sedih adalah bagian dari emosi negatif.

Emosi negatif kadang kala menyergap di saat amarah tak tertahan meliputi dengan ganas. Bila hawa amarah telanjur menguasai, maka bersiaplah menghadapi kehancuran diri. Nafsu amarah yang tak terkendali dapat membutakan segala perilaku menjadi di luar ambang batas kenormalan. Sehingga, yang tampak adalah sisi lain kepribadian yang bisa saja menjatuhkan kredibilitas dan martabat seseorang.

Tidak sedikit para petinggi negara jatuh seketika akibat kelalaiannya dalam menata emosi. Bahkan, banyak pula para tokoh budiman yang awalnya disegani menjadi dibenci karena sering lupa menata emosi. Setelah terpuruk, baru menyesal atas segala peristiwa yang telah terjadi.

Padahal, Allah SWT memberikan jaminan yang baik di surga bagi orang yang dapat mengendalikan amarah. Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga hal yang jika seseorang melakukannya, Allah akan menempatkannya di dalam naungan-Nya, mencurahkan rahmat-Nya, dan memasukkannya ke dalam surga-Nya, yaitu jika diberi rezeki ia bersyukur, jika mampu membalas, ia bisa memberi maaf dan jika marah ia bisa menahannya.”

“Tidaklah seorang hamba menahan kemarahan karena Allah SWT kecuali akan memenuhi baginya keamanan dan keimanan.” (HR Abu Dawud dengan sanad Hasan).

Amarah adalah salah satu emosi negatif yang perlu diwaspadai, maka dibutuhkan pengendalian diri agar emosi dapat dikelola dengan baik sehingga amarah tidak menjalar merasuki.

Emosi yang tidak terkendali adalah media ampuh bagi setan untuk mengendalikan manusia. Sesungguhnya marah digerakkan oleh setan yang terbuat dari api dan api dipadamkan oleh air. Siapa pun yang sedang marah, segera berwudhu. Wallahu a'lam bishshawab.

Selasa, 19 April 2011

Hidup Sederhana

Oleh Makmun Nawawi

"Tidak bakal susah orang yang hidup sederhana." Demikian sabda Nabi Muhammad SAW dalam riwayat Imam Ahmad. Hadis ini hanyalah salah satu dari sekian banyaknya sabda Nabi yang menyerukan pentingnya hidup sederhana. Dan, prinsip kesederhaan ini tidak hanya terucap melalui kata-kata tetapi juga mengejawantah dalam laku keseharian beliau.

Ibnu Amir pernah memberikan kesaksian perihal hebatnya kesederhanaan dan ketawadhuan  Rasulullah, di tengah kedudukannya yang luhur di antara umat manusia. "Aku pernah melihat Rasul melempar jumrah dari atas unta tanpa kawalan pasukan, tanpa senjata, dan juga tanpa pengawal."

Menurut Ibnu Amir, Rasul menaiki keledai berpelanakan kain beludru dan dibonceng pula. Sering menjenguk orang yang sakit, mengantar jenazah, menghadiri undangan dari seorang budak, mengesol sandalnya, menambal pakaiannya, dan mengerjakan pekerjaan rumah bersama istri-istrinya.

Pernah suatu ketika, Rasulullah bertemu dengan seorang laki-laki yang kemudian gemetar karena kewibawaan beliau. Melihat hal itu, Muhammad SAW berujar untuk menenangkan laki-laki tersebut, "Tenanglah aku bukanlah seorang raja, namun aku hanyalah anak dari wanita Quraisy yang makan dendeng."

Saat dia berkumpul dan berbaur dengan para sahabatnya, tak tebersit sedikit pun sikap untuk menonjolkan dirinya. Sehingga, manakala ada seorang tamu asing datang ia tak bisa membedakan Rasulullah dengan para sahabatnya. Ini memaksanya bertanya yang mana Rasulullah.

Bayangkan, seorang tokoh publik kelas dunia-akhirat sulit dikenali lantaran kesederhanaan dan ketawadhuannya. Memilih hidup sederhana tidak identik dengan hidup miskin, atau memerosokkannya dalam kemiskinan, sebagaimana tecermin dalam hadis di atas. Sementara itu, di kalangan sahabat kita mengenal Mush'ab bin Umair.

Pemuda ini kaya raya, tampil trendi, dan serbamewah namun ketika tersibghah dengan nilai-nilai Islam, ia menjadi pemuda yang sederhana. Demikian Islam menginspirasi umatnya, yakni sederhana dalam berbagai hal, mulai dari cara berpakaian, bertempat tinggal, berkendaraan, dan sebagainya.

Bukan sebaliknya,  bergaya hidup secara berlebih-lebihan, glamour, boros, dan bermegah-megahan. Allah berfirman, "Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (al-A'raf: 31).

Mengapa demikian, karena terbukti gaya hidup mewah, berlebih-lebihan, konsumtif, dan boros, seringkali  menyeret pelakunya untuk melakukan hal apa pun demi memenuhi segenap nafsu dan ambisinya, serta memuaskan gengsinya. Entah dengan cara  korupsi, mencuri, menipu, dan tindakan negatif lainnya. Wallahu a'lam bish-shawab.

Sabtu, 09 April 2011

Shalawat, Obat Hati yang Gelisah

Oleh: Saiful Mujab

Bagi orang yang beriman, musibah sudah menjadi bagian dari hidupnya. Bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa terpisahkan, sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surat Al Ankabut: "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: " kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji
lagi?"

Hidup manusia ini sesungguhnya adalah ujian. Orang yang kaya dicoba dengan hartanya, apakah dia membelanjakan di jalan yang benar atau tidak. Yang berilmu diuji dengan ilmunya, apakah dia memanfaatkan ilmu yang telah Allah SWT anugrahkan kepadanya atau malah menyembunyikannya, bahkan Si miskin pun dicoba dengan kemiskinannya apakah dia sabar atau tidak. Maka tidak ada orang mu'min yang terlepas dari ujian Allah SWT.

Penyikapan manusia atas ujiannya adalah cara bagaimana Allah SWT mengetahui mana yang tetap pada jalan-Nya dan mana yang berbelok dari-Nya. Bagi orang yang tetap di jalan-Nya, hidupnya akan selalu diliputi dengan rasa nyaman dan hatinya selalu tentram, karena dia yakin, semua yang ditimpahkan kepadanya adalah yang terbaik baginya menurut Allah SWT. Dia selalu berbaik sangka (khusnudzon).

Sebaliknya orang yang selalu berburuk sangka. Hidup orang ini selalu diliputi rasa gelisah, kurang bersyukur, malah kadang sampai kufur. Nau'zubillah min dzalik.

Tidak mudah memang untuk selalu menerima keputusan yang telah Allah SWT tentukan untuk kita, kecuali orang-orang yang sudah benar-benar kuat imannya. Namun bukan berarti tidak mungkin. salah satu caranya dengan membiasakan diri membaca shalawat.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi SAW, "Barangsiapa yang mendapatkan kesulitan, maka perbanyaklah membaca shalawat untukku, karena sesungguhnya ia dapat mengatasi berbagai masalah dan menghilangkan kegelisahan".

Dan ketika sudah membacanya berkali-kali, maka akan terasa sekali manfaatnya. Hati yang sebelumnya gundah gelisah, akan terasa tentram dan lapang. Wallahu 'alam bish shawab.

Minggu, 03 April 2011

Ikhlas

Oleh Ustadz Muhammad Arifin Ilham


Ikhlas artinya kita berbuat dan melakukan apa pun hanya dengan niat untuk meraih ridha Allah, bukan untuk apa pun dan bukan untuk siapa pun. Ikhlas adalah kunci diterimanya ibadah dan bentuk-bentuk amal kebajikan. Meski besar nilainya di mata manusia, amal tersebut tidak ada artinya di mata Allah bila tidak dibarengi dengan keikhlasan. Namun, sekecil apa pun kebajikan itu di mata manusia, bila dibarengi dengan niat ikhlas, ia sangat besar nilainya di hadapan Allah.

Perhatikan firman-firman-Nya di dalam Alquran, semua menegaskan keikhlasan. Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, (QS al-Anfam [6]: 162).

Dalam QS al-Bayinah [98]: 5, Allah mengaskan bahwa umatumat terdahulu (para ahlulkitab) juga diajarkan untuk berbuat ikhlas dalam buku-buku mereka. Mengapa? Karena, keikhlasan inti dari agama yang benar. Kepada Rasulullah SAW, Allah menegaskan, Sesungguhnya Kami menurunkan Alquran kepadamu (Muhammad) dengan kebenaran. Maka, sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allahlah agama yang bersih, alkhalish. (QS az-Zumar [39]: 2-3).

Hadis berikut ilustrasi mengerikan dalam perjalanan panjang di Hari Akhir bagi sosok-sosok alim dan yang tampak dalam tampilan fisiknya seperti manusia suci. Yang pertama akan diadili di mahkamah Allah adalah orang yang mati di jalan perang (syahid). Ketika ditanya, ia menjawab bahwa ia berperang sampai mati syahid. Dikatakan kepadanya, Kamu bohong! Kamu berperang dengan niat supaya kamu dikatakan pemberani, dan orang-orang sudah menyebut itu. Apa yang terjadi? Ia pun diseret dan dimasukkan ke dalam api neraka.

Kedua, ulama, pengajar Alquran, dan pencerah umat. Ketika ditanya, ia menjawab bahwa saya mencari ilmu dan mengajarkannya. Saya juga mengajarkan Alquran. Lalu dikatakan kepadanya, Kamu dusta! Kamu mencari dan mengajarkan ilmu dengan niat supaya dikatakan alim, dan orang-orang percaya itu. Apa yang terjadi? Ia pun diperlakukan sama, diseret dan dicampakkan ke dalam neraka.

Ketiga, hartawan dan dermawan. Ketika ditanya, ke mana harta itu dipergunakan, ia menjawab bahwa ia telah menginfakkannya untuk umat. Lalu dikatakan kepadanya, Kamu pembohong! Kamu lakukan itu dengan niat supaya disebut dermawan, dan orang-orang pun percaya itu. Lalu apa yang terjadi? Ia pun diperintahkan untuk dilempar ke dalam jurang neraka.

Ternyata banyak amal kebajikan bahkan hingga menguras harta, berpeluh keringat dan darah, tapi kemudian sia-sia dan tak berbekas, bahkan direspons dengan siksa neraka oleh karena tidak disertai dengan ikhlas. Karenanya, mari kita tempatkan kebajikan kita dalam ruang suci bernama ikhlas. Jangan takut bila perbuatan kita tidak diketahui atau tidak dipuji orang. Karena pujian orang banyak tidak ada artinya bila Allah menolaknya. Tapi, takutlah bila perbuat an kita ditolak Allah karena tidak ikhlas. Sebut sebuah hadis, gSeandainya seseorang di antara kalian melakukan suatu kebaikan di tengah padang sahara yang sangat sepi, dalam ruang tertutup tanpa pintu, amal itu suatu saat pasti akan ketahuan juga.

Rabu, 02 Maret 2011

Kesabaran - Sebuah Gateway untuk Kesempurnaan Manusia

O ne bisa mendefinisikan kesabaran sebagai perlawanan yang ditawarkan oleh manusia di jalan menuju kesempurnaan melawan kekuatan kejahatan, korupsi dan degradasi. Sekarang mari kita mengenali bidang kesabaran, dimana prakteknya paling penting. Tentu saja, kami ingin menguji kesabaran domain, sesuai dengan teks narasi Islam dan Al Qur'an, di mana, kesabaran berlatih telah dijanjikan dengan banyak penghargaan di dunia ini maupun di akhirat.
Tidak diragukan lagi, bahwa seorang tentara bodoh atau pertempuran tentara bayaran di medan perang melawan pembawa kabar gembira kebenaran dan keadilan (prajurit Islam), dan bahkan kehilangan hidupnya demi perintah yang dikeluarkan oleh tuannya; atau tiran, penimbun kekayaan, dan pemegang posisi penting, berdiri melawan kebenaran demi kekuasaan, kekayaan, dan posisi, atau berbagai bagian atau kelompok khusus memberikan perlawanan demi kepentingan pribadi mereka atau alasan lain, sebenarnya tidak berlatih kesabaran demi cita-cita manusia tetapi menentang kebenaran.
Di permukaan semua kasus ini menunjukkan berlatih kesabaran. Tapi ini cukup berlawanan dari kesabaran yang dipraktekkan oleh orang saleh di jalan kesempurnaan untuk kesenangan Allah. Tentu saja, sejauh makna leksikal dari "istilah" kesabaran yang bersangkutan baik berbagi sama.
Tetapi dalam semua situasi seperti itu, kesabaran belum dipraktekkan untuk mencapai kesempurnaan manusia dan cita-cita, bukan untuk menindas mereka. Berikut perlawanan itu tidak ditawarkan melawan kekuatan kejahatan, korupsi dan degradasi, melainkan itu ditawarkan untuk menghancurkan manifestasi bersinar kesempurnaan manusia. Oleh karena itu, domain ini kesabaran bukanlah domain seperti yang didefinisikan dalam tradisi dan Al Qur'an.
Karena itu dapat disimpulkan bahwa kesabaran dapat didefinisikan sebagai sarana mencapai kesempurnaan, keunggulan, dan exaltedness, di mana orang berusaha dan membuat upaya tulus untuk tujuan utama penciptaan, untuk menjadi hamba Allah yang sesungguhnya. Kepribadiannya akhirnya menjadi manifestasi dari semua Potensi tersembunyi bakat manusia dan karakteristik. Dengan kata lain mencapai status manusia sempurna (Insan-e-Kamil).
Pada tahap ini semua hambatan internal dan eksternal (dijelaskan secara rinci sebelumnya), yang saling melengkapi satu sama lain, dan dalam hal apapun adalah manifestasi dari taktik setan, yang ditentang oleh dia, dalam perjalanan ke depan nya. Di jalan ini, segala macam bahaya, sakit kepala dan hambatan menunggu penumpang. Pihak oposisi yang disediakan oleh mereka bervariasi dalam proporsi untuk perjalanan lokasi, gerakan, dan tugas. Kadang-kadang untuk melaksanakan satu tugas dihadapkan dengan hambatan langsung, sementara di lain waktu satu dihadapkan dengan hambatan langsung di jalan-Nya.
Bagi seorang pendaki gunung, mencoba untuk skala puncak tertinggi, konfrontasi dengan batu, duri, pencuri dan serigala, semua sama saja dengan kekuatan negatif mengganggu pendakiannya. Tapi kadang-kadang adegan yang indah, tempat tidur empuk yang nyaman, dan pendamping gemetar juga kekuatan negatif semacam lain, yang memaksa pendaki untuk mengakhiri pendakiannya. Namun, di lain waktu bisa sakit sendiri, atau ia harus mengurus beberapa sahabat sakit, atau mungkin dihadapkan dengan beberapa kecelakaan lain, yang akhirnya memaksa dia untuk mengakhiri ekspedisinya. Kasus terakhir ini dapat dianggap sebagai hambatan langsung di jalan-Nya.
Analogi di atas gunung ini juga berlaku untuk perjalanan manusia di jalan kesempurnaan. Dia dihadapkan dengan tiga jenis hambatan dalam perjalanan ini. Jika tugas wajib dan kewajiban agama dapat dianggap sebagai instrumen dan langkah-langkah yang diperlukan untuk berbaris maju di jalan kesempurnaan, tindakan dilarang agama dapat dianggap sebagai penyimpangan dari jalan yang lurus. Dan jika kejadian tak terduga pahit hidup pada saat kegelisahan dan ketidakstabilan yang dianggap bertanggung jawab untuk memperlambat dan akhirnya memotong-nya perjalanan pendek, maka rintangan dan menentang motif juga bisa dibagi menjadi tiga kategori berikut:
(I) Hasrat dan gairah yang bertanggung jawab untuk kelalaian kewajiban agama wajib.
(II) Keinginan dan kecenderungan yang mendorong manusia ke dalam perbuatan dosa dilarang.
(III) Tak Terduga, kejadian bahagia yang mengakibatkan melanggar keberanian dan keteguhan.
Kesabaran berarti perlawanan terhadap ketiga jenis hambatan, dan keberanian moral menyediakan dan momentum yang diperlukan bagi para traveler untuk melanjutkan perjalanan ke depan nya di jalan kesempurnaan. Menawarkan perlawanan terhadap orang-keinginan dan kecenderungan yang mencegah manusia dari melakukan kewajiban wajib, menolak keinginan untuk terlibat dalam tindakan terlarang berdosa, dan memberikan semangat dan kekuatan untuk dapat mentolerir dan tidak bahagia kejadian tak terduga, yang mengancam untuk mematahkan tekadnya.
Dengan satu penjelasan atas dapat menghargai konteks ini narasi penting dari Nabi suci (saw) yang terkait dengan Amirul Mukminin Imam Ali (as), sebagai berikut:
"Rasulullah berkata: Kesabaran adalah tiga jenis - Kesabaran dalam tragedi dan peristiwa yang tidak menyenangkan, kesabaran dalam pelaksanaan kewajibannya wajib, dan kesabaran terhadap dosa".
Pada semua kesempatan yang disebutkan di atas, seperti terjadinya terjadi disayangkan tragis yang mengakibatkan hilangnya nyawa atau kekayaan atau keduanya, situasi yang membutuhkan kinerja kewajiban wajib, dan kesenangan berdosa menarik menggoda dia untuk menikmati tindakan terlarang, sebuah jenis kesabaran diperlukan di mana manusia bisa mewujudkan atau menampilkan potensi unggul heroik sebagian besar mulia tersembunyi kualitasnya. Agar pemahaman lengkap dari spesialisasi Islam terkait dengan tiga jenis kesabaran bisa dibuat secara eksplisit jelas, kita akan membahas semuanya secara rinci.
Kesabaran dalam Kinerja Kewajiban (Kepatuhan)
Semua tugas dan kewajiban wajib disertai dengan beberapa sakit kepala dan ketidaknyamanan, atau dengan kata lain, mereka menuntut beberapa jumlah upaya dan keterlibatan (positif atau negatif), yang pada aneh dengan santai dan kenyamanan mencintai alam manusia. Mulai dari wajib kewajiban agama pribadi seperti doa dan puasa sampai kewajiban keuangan seperti "Khums" (Satu pungutan kelima; pajak tahunan atas pribadi tabungan satu) dan "Zakat", (Wealth pajak yang harus dibayar pada item tertentu) dan kewajiban sosial kolektif seperti Haji, pemisahan dari dan orang yang dicintai keluarga, mengorbankan semua kenyamanan dan kesenangan hidup, dan kadang-kadang pengorbanan diri sendiri menjadi perlu. Tentu saja, semua ini tidak sesuai dengan santai dan mencintai alam kenyamanan manusia. Hal ini berlaku untuk semua hukum dunia apakah surgawi atau buatan manusia, akan mereka benar atau salah.
Meskipun pada prinsipnya undang-undang sendiri telah keharusan dan untuk alasan yang sama itu diterima oleh manusia, tetapi pada umumnya mana-mana, itu yang pernah diterima sebagai sesuatu yang nyaman, diinginkan dan manis oleh manusia. Hal yang sama berlaku untuk hukum internasional yang paling umum dan peraturan, yang manfaat dan keuntungan secara eksplisit jelas untuk semua orang, dan pelanggaran mereka akan mengakibatkan konsekuensi serius seperti halnya dengan undang-undang lalu lintas.
Melewati hasil lampu merah di kecelakaan paling mengerikan yang terkadang mengakibatkan hilangnya nyawa. Meskipun semua orang secara jelas menyadari tentang konsekuensi dari pelanggaran hukum lalu lintas, tetapi meskipun di atas sangat umum bahwa sementara menunggu di belakang lampu merah, sifat manusia batin tidak nyaman dan merasa nyaman. Kasus serupa karena tidak mampu melewati rute jalan pintas karena rambu lalu lintas, lagi orang merasa tidak nyaman.
Meskipun kewajiban agama wajib didasarkan pada sifat manusia yang melekat, dan tanpa pengecualian untuk memenuhi kebutuhan yang sesungguhnya, berada dalam berarti realitas dan instrumen untuk memimpin manusia menuju kesempurnaan dan peninggian, namun meskipun itu harus dikatakan bahwa dalam prakteknya memerlukan upaya dan kesulitan dari beberapa macam. Sebagai contoh, untuk melaksanakan sholat wajib kita harus meluangkan waktu, harus membersihkan tangan dan muka sebelum doa, dan harus memenuhi persyaratan awal lainnya mengenai pakaian dan tempat sesuai dengan pedoman agama. Hal ini jelas bahwa semua hal di atas bertentangan dengan sifat manusia akan mudah.
Kinerja selama doa-doa sehari-hari, untuk mengendalikan pikiran dan untuk mencapai kedamaian hati dan pikiran hanya untuk doa, bukannya sibuk dalam urusan duniawi selain Allah, adalah sangat penting. Agar doa menjadi berarti, dan diterima oleh Allah, sangat penting bahwa gerbang yang memungkinkan semua ide eksternal harus benar-benar ditutup selama doa. (Catatan kaki: Dalam bukunya "Sirr-us-Salat" misteri doa, Imam Khomeini, menggambarkan kehadiran hati, sebagai berikut:
"Selama doa orang harus berusaha untuk benar-benar memotong jantung keasyikan dengan urusan duniawi.. Suatu Jika orang tersebut tenggelam dalam cinta dan keinginan ini dunia, ia alami jantung sibuk terus-menerus dari satu keterlibatan yang lain Jantung berperilaku seperti burung melompat dari satu cabang ke cabang lain,. Sejauh ini kita memiliki ambisi duniawi pohon atau keinginan ("hubb-e-Duniya") kami dalam hati itu akan bersikap gelisah. Jika dengan perjuangan, latihan, upaya, dan berpikir tentang konsekuensi berat dan kerugian , jika seseorang bisa berhasil dalam memotong pohon ini ambisi duniawi atau keinginan, maka hati akan menjadi beristirahat dan damai. Ini akan mencapai kesempurnaan rohani.
Setidaknya lebih satu berusaha untuk membebaskan diri dari daya tarik duniawi dan godaan semakin ia berhasil memotong berbagai cabang pohon di dalam hatinya, dengan hasil, kehadiran hati akan dicapai dalam proporsi yang sama. "
Imam Khomeini lebih lanjut menjelaskan dunia 'istilah' cinta ini "hubb-e-Duniya" hal ini. "Ada orang yang tidak memiliki apa-apa dari fana dunia ini, tetapi tetap saja mereka bisa menjadi orang yang benar-benar tenggelam dalam kasih dunia. Sementara di satu sebaliknya mungkin seperti Nabi Sulaiman bin Dawud, (Salomo bin Daud) raja raja dan memiliki semua bendahara alam semesta ini, tetapi pada saat yang sama tidak mungkin orang di dunia ini, benar-benar terpisah dari iming-iming dunia. " (Bokhari))
Tentu saja mencapai keadaan di atas pikiran dan hati membutuhkan banyak energi dan upaya dan merupakan tugas yang sulit.
Atau puasa, yang mengharuskan toleransi dari lapar dan haus untuk waktu yang lama. Untuk melawan dan berjuang melawan nafsu makan untuk makan dan minum, menahan mata dari melihat hal-hal yang dilarang keindahan dan untuk menolak gairah seksual adalah tugas-tugas sulit yang membutuhkan sejumlah besar perlawanan. Meskipun memiliki selera makanan dan minuman, untuk dapat memaksakan pembatasan diri sukarela, untuk menghabiskan hari musim panas panas panjang dengan perut kosong dan bibir kering tentu saja, membutuhkan banyak akan kekuasaan dan tekad yang kuat.
Atau haji misalnya, yang membutuhkan toleransi ketidaknyamanan dan kesulitan dari sebuah perjalanan jarak jauh, pemisahan dari rumah dan keluarga, dan bergabung dengan kelompok sahabat yang tidak diketahui, dan uang belanja dan waktu yang berharga. Jika haji dilakukan hanya demi ridha Allah, tanpa motif waktu luang dan menghasilkan keuntungan, juga akan membutuhkan kesabaran dan pengorbanan diri.
Kewajiban tentang mendorong apa yang baik (Amr bil Ma'roof) dan melarang apa saja yang dilarang (Nahi anil Munkar), serta Jihad (Berjuang untuk kebenaran), memerlukan banyak kesulitan,, toleran pengorbanan dan kesabaran.
Proklamasi kebenaran di depan kekuatan kepalsuan dan Korupsi adalah berbahaya, tidak menyenangkan dan pahit tindakan yang paling, yang seperti berdiri melawan tiran pedang terhunus yang siap untuk jatuh pada proklamator itu kepala. Atau menghadapi musuh, yang seperti binatang liar, kilauan yang electrifying mata dan pedang setrum hati dan jiwa dari pengamat dangkal. Atau, untuk dapat memberikan perlawanan terhadap gelombang korupsi dan penyelewengan dari sebuah bangsa, kelas, atau umat manusia secara keseluruhan, adalah yang paling sulit, berbahaya dan mengancam tugas yang paling.
Yang sama halnya dengan kewajiban Islam lainnya, yang disertai dengan sakit kepala, kesulitan dan ketidaknyamanan, tetapi pada saat yang sama tanpa kecuali, semuanya adalah menguntungkan, dan cara yang paling penting dan jaminan keselamatan dan kemakmuran bagi umat manusia. Tentu saja, bagi mereka yang telah mengakui jalan yang lurus dan telah merasakan manisnya berjalan di jalan yang sulit untuk kesenangan Allah, dan tujuan suci dan dimuliakan umat manusia, semua kesulitan di atas diinginkan dan ditoleransi.
Doa yang sama untuk laki-laki Allah, yang telah merasakan manisnya doa sungguh-sungguh dan mengingat Allah adalah sesuatu yang lebih manis daripada madu. Nabi Islam (saw) pada saat doa sangat bersemangat dan gelisah bahwa ia digunakan untuk memberitahu "Bilal" (Catatan kaki:. 4 "Ia dilahirkan di Mekah, anak seorang budak bernama Rabah Abyssinian, dalam sebuah kota penyembahan berhala, ia disiksa karena keyakinannya di Satu dan Hanya Allah itu. Dia membuat muadzin pertama, pemanggil untuk doa dalam Islam Nabi (saw).
Setelah kematian Nabi kaki Bilal, dalam kesedihannya, dia gagal. Dia tidak bisa memanjat tangga untuk membuat panggilan untuk berdoa lagi. Dia meninggal di Suriah, mungkin 644, dua belas tahun setelah kematian Nabi. Kaum Muslim Black di Amerika telah berganti nama dirinya Bilali. Nabi (saw) disebut 'Bilal' orang surga. ")
"Oh! Bilal silakan melafalkan panggilan untuk shalat (Adzan) dan membuat hati dan jiwa saya damai".
Perjuangan yang sama demi "Jihad fi sabil Allah" lillah bagi orang-orang memanjakan diri tanpa wawasan bagi konsekuensi akhir adalah sangat kasar dan tidak diinginkan, tetapi untuk seseorang dengan wawasan rohani yang baik dan kekuasaan seperti Imam Ali (as), lebih manis daripada madu. Baginya, semua ketidaknyamanan dan kesulitan dalam hasil perjuangan dalam memperkuat kekuasaannya resistensi dan keteguhan. Dia sendiri menjelaskan tentang keadaan mengagumkan moral dalam khotbah "Nahj-ul-Balagha" sebagai berikut:
"Bersama dengan Nabi suci (saw) kita berjuang bapak-bapak kita sendiri, anak, saudara, dan paman, (tetapi semua peristiwa ini tidak menyenangkan mempunyai pengaruh paling atas kita), kecuali bahwa meningkatkan iman kita untuk menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada Allah dan membuat keras hal-hal yang lumayan bagi kami. "
Tapi secara umum kesulitan-kesulitan dan penderitaan ada untuk rakyat biasa dengan wawasan rohani lemah, dan bagi mereka yang tidak memiliki dengan penentuan yang diperlukan dan akan kekuasaan, yang pahit dan tidak diinginkan.
Sekarang, apa yang harus dilakukan mengenai kesulitan-kesulitan yang datang dalam cara melaksanakan kewajiban agama? Sejak penawaran lengah shalat wajib sulit, kehadiran jantung pada saat doa dan chaining roaming dan pikiran bertanya-tanya bahkan lebih keras. Sejak, Jihad, Haji, amal Puasa, mendorong melarang kejahatan, dan sosial lainnya kewajiban dan baik memerlukan rasa sakit dan ketidaknyamanan, kemudian harus semua dinyatakan sebagai berlaku. Oleh karena itu, kita harus diizinkan untuk hidup menurut keinginan hati kita yang penuh gairah dan semangat yang mencintai kemudahan dan kenyamanan hidup.
Hal ini di sini bahwa Islam memberitahu kita Tidak! Sebaliknya kesabaran harus dipraktekkan. Sabar dalam ketaatan harus dipraktekkan terhadap mereka nafsu yang memikat hati jauh dari karpet, masjid doa dan mezbah, dengan mendapatkan itu sibuk dengan ratusan jenis hiburan, dan pada gilirannya membuat doa bergairah dan tak berarti. Kesabaran harus dipraktekkan terhadap jenis-jenis keinginan dan doa harus ditawarkan sepenuhnya dengan keberadaan, hati dan konsentrasi, sehingga mereka diterima oleh Allah dan bermanfaat bagi kita. Kesabaran harus ditawarkan terhadap mereka kecenderungan ekstremis yang menggoda kita untuk menikmati makan dan minum pada hari kering panas bukan puasa.
Kesabaran harus dipraktekkan dalam konfrontasi dengan musuh dalam medan perang, di mana bahaya yang nyata dan serius menunjukkan wajahnya, dan di mana kematian merah dengan kecepatan dinamis menghadapi orang itu. Kenikmatan dan kemanisan hidup, kenangan dari anak-anak dan kerabat, dan wajah-wajah orang terkasih menjadi menjelma di mata, dan semua berorientasi bisnis transaksi-keuntungan dalam satu cara atau yang lain menarik perhatiannya, dan mencoba untuk membuat tekadnya lemah dan gemetar. Perlawanan harus ditawarkan terhadap semua kekuatan-kekuatan. Semua rintangan dan hambatan yang mengganggu perjalanan ke depan harus dihilangkan dari jalan.
Kesabaran harus ditawarkan terhadap `tiran bangga yang matanya membakar dengan kemarahan dan yang pelanggaran dan korupsi telah mendorong sebuah bangsa ke jurang bencana. Seperti tiran harus ditentang oleh setiap individu bertanggung jawab. Dalam situasi ini adalah kewajiban wajib bagi setiap orang untuk mencoba untuk menggulingkan penguasa lalim tersebut.
Kesabaran harus dilakukan terhadap bisikan setan, yang dengan ribuan kebohongan yang berwarna-warni akan mencoba untuk menutup tangan amal dengan mengingatkan salah satu kebutuhan pribadi, bukan membantu orang lain, dengan menghasut keinginan untuk keuntungan materi dan ambisi duniawi lainnya, dan pada akhirnya akan mencegah seseorang dari amal saleh. Dia akan mencoba untuk menekankan bahwa lampu di rumah sendiri lebih penting daripada lilin dari masjid ceruk (Mehrab),. Di sini kesabaran datang ke dalam gambar dengan menawarkan perlawanan yang diperlukan untuk keinginan atas, untuk memungkinkan satu untuk debit keuangan dan kewajiban agama. Ya! Kesabaran harus dilakukan. Ya! Kita harus sabar dalam ketaatan dan pemenuhan dari perintah keagamaan. Perlawanan harus diberikan terhadap bisikan setan dan nafsu mendorong pelanggaran.
Setiap kasus di mana tahanan tersebut ditawarkan mengasumsikan arti khusus dan kepentingan khusus dalam proporsional dengan kebesaran yang situasi tertentu. Di satu tempat, perlawanan berarti untuk tabah dalam menghadapi musuh di medan perang, atau mungkin konfrontasi dengan diri, dan kadang-kadang mungkin perjuangan untuk tetap acuh tak acuh sambil menghadap rasa sakit dari kemiskinan dan kesulitan lainnya.
Oleh karena itu, kesabaran berarti dapat menawarkan perlawanan di semua keadaan di atas. Kesabaran tidak pernah memungkinkan kita untuk menyerah dengan tangan dilipat, untuk dihina, untuk menyerah inisiatif, dan menjadi tahanan peristiwa.
Contoh Sabar dalam Ketaatan dalam Kehidupan imam maksum (as)
Kunci frase yang telah ditekankan banyak dalam ziarah buku "-Nama Ziyarat" dari Imam adalah kesabaran. yaitu, "Anda tetap! (Imam) sabar, dan kesabaran ini berlatih dengan kesenangan demi Allah. Anda! menerima beban berat membawa kepercayaan, dan meskipun semua kesulitan dan kesulitan, Anda mengirimkannya kepada yang tujuan akhir. "
Sesungguhnya, tanggung jawab membimbing manusia dan menjelaskan mereka kebenaran agama, dan melawan tirani, korupsi, dan pelanggaran selama hari-hari dari Imam, seperti waktu lainnya, adalah tugas yang sulit yang membutuhkan banyak kesabaran dan tekad yang kuat. Jika kesabaran dipraktekkan oleh imam akan seperti jenis yang walaupun tidak senang dengan kondisi yang buruk dari mereka kali, dengan hati pendarahan selama memburuknya nasib umat Islam dan Islam, mereka harus membatasi diri dengan batas-batas yang aman dari rumah mereka tanpa mengambil setiap langkah konkret untuk penghancuran kejahatan dan perbaikan situasi yang mendukung masyarakat, maka jenis kesabaran tidak akan dari setiap prestise, perbedaan khusus dan kehormatan. Tidak ada yang istimewa dalam jenis perilaku inert dan siapa pun bisa melakukannya dengan mudah. Tentu saja, jenis ini melakukan dipraktekkan oleh orang-orang yang lemah dan tidak mengikat.
Keunggulan dan kemuliaan yang membedakan kehidupan para imam suci, dan karakteristik khusus yang dapat diulang saat mengucapkan salam sebagaimana disebutkan dalam "Ziyarat-Nama", sedang pasien mereka dalam ketaatan kepada Allah. Ini adalah daerah, di mana orang biasa banyak menemukan diri mereka tidak berdaya, dan tidak bisa mentolerir kesulitan dan karena itu gagal untuk mencapai kehormatan dan perbedaan.
Tinjauan Al-Qur'an
Ini tidak akan keluar dari konteks untuk mengingatkan di sini bahwa di antara puluhan ayat-ayat tentang kesabaran orang-orang yang telah sabar, ada banyak ayat tentang kesabaran dalam ketaatan, seperti berikut:
"Jika ada dua puluh pasien (teguh) yang di antara kamu, mereka akan mengalahkan dua ratus (dari orang-orang kafir) dan jika ada seratus (yang tersebut), mereka akan mengatasi ribuan" (8:65)
Ayat di atas menekankan pentingnya memberikan perlawanan dan menjadi teguh sementara menghadapi motif interior dalam diri, yang bertindak sebagai hambatan di jalur seorang prajurit menghadapi musuh di medan perang. Orang-orang pasien yang telah disebutkan dalam ayat di atas adalah mereka yang baik pedang berkedip, maupun pembakaran mata musuh, baik wajah marah kematian merah maupun kenangan teman-teman dan anak-anak, dan kenikmatan dan pesona hidup, berhenti mereka dalam melaksanakan kewajiban mereka untuk terlibat dalam pertempuran berdarah di medan perang. Dan tidak ada di atas membuat penyok sedikit di besi mereka akan untuk mematuhi Allah.
Ayat lain dari Al Qur'an tentang pentingnya kesabaran dalam ketaatan adalah sebagai berikut:
"Ya Tuhan kami kami! Memberikan pada daya tahan, membuat pijakan kita yakin, dan memberi kita bantuan terhadap kaum yang kafir. (2:250)
Ayat di atas merujuk kepada sekelompok orang percaya yang dalam rangka melaksanakan kewajiban wajib harus mempersiapkan diri untuk menghadapi musuh di medan perang. Mereka meminta Allah untuk memberkati mereka dengan semangat ketahanan dan ketabahan dalam menghadapi hambatan di jalan mereka, dan dengan memberikan hasil atas mereka buah daya tahan mereka, yaitu mencapai kemenangan atas musuh (kafir). Ayat ini sangat jelas menjelaskan makna kesabaran dalam ketaatan. Ada banyak ayat-ayat tersebut dalam Al Qur'an, dan diskusi rinci tentang mereka berada di luar cakupan pembahasan kita saat ini.
Kesabaran terhadap Dosa
Tentu, manusia memiliki keinginan dan nafsu dengan, yang mendorong serta mencegah mereka dalam melakukan tindakan tertentu. Pada kenyataannya ini adalah instrumen untuk melakukan semua tindakan, upaya dan usaha oleh orang-orang dalam rentang hidup mereka. Ini disebut naluri seperti, cinta diri, cinta untuk anak-anak, cinta kekayaan, cinta kekuasaan, hasrat seksual, dan puluhan tempat-tempat seperti yang lain dan keinginan.
Apa petunjuk Islam tentang alam naluri manusia di atas? Dan bagaimana manusia seharusnya bersikap saat menghadapi naluri alami mereka? Apakah mereka harus menyerah diri untuk ini naluri tanpa batas atau kondisi? Jika nafsu ini ditekan? Atau mereka harus dibuat sepenuhnya dinonaktifkan dengan cara melapiskan ketat disiplin diri? Menurut pandangan Islam tidak satu pun dari metode di atas adalah pengobatan yang benar.
Sebaliknya dalam kondisi apapun, Islam mengabaikan naluri manusia, melainkan menganggap mereka berguna dan sesuatu yang nyata yang harus diperhitungkan. Islam menutup jalan pelanggaran dan agresi, tapi di sisi lain dengan menggunakan langkah-langkah pencegahan yang realistis. Ini menghilang energi meresap terkait dengan mereka. Pada kenyataannya, sebagai dasar adanya naluri di antara manusia merupakan sarana untuk kelangsungan hidup, serta untuk menyediakan kebutuhan penting dalam kehidupan, juga pemberontakan, Agresi dan pelanggaran hasil nafsu naluriah dalam bencana dan kemalangan bagi kehidupan manusia.
Jika naluri cinta diri tidak ada, kelangsungan hidup manusia akan belum mungkin. Tetapi pada waktu yang sama dan excessiveness pelanggaran naluri diatas membuat urusan kehidupan yang sulit, dan kadang-kadang tidak memungkinkan. Serupa halnya dengan naluri lainnya. Di antara ketiga jenis kesabaran yang disebutkan sebelumnya, kesabaran terhadap dosa berarti memberikan perlawanan terhadap api kemarahan atau pengalihan nafsu naluriah, karena pada dasarnya dosa atau pelanggaran terhadap hukum Allah itu tidak lain adalah tindakan di atas penyelewengan, pelanggaran dan agresi dari naluri.
Manusia secara alami cenderung untuk Endeavour untuk mengatur kebutuhan hidup dan persyaratan penting lainnya. Karena ini tidak dapat dicapai tanpa memiliki kekayaan dan uang, sehingga motif untuk mendapatkan uang dan kekayaan merupakan insting alami.
Juga, Islam sebagai sekolah umat manusia dan cara hidup mendorong naluri di atas dan menyatakan itu dengan meletakkan tanda tangan sendiri. Tentu saja, itu untuk administrasi hak masyarakat dan sesuai menetapkan metode, prosedur dan keterbatasan, tetapi tidak pernah berhenti membuat manusia bentuk upaya untuk mendapatkan penghidupan.
Terlepas dari semua itu, dalam banyak kasus, ini naluri cinta uang dan penimbunan kekayaan mengambil akar dalam jiwa manusia seperti penyakit kronis dan dengan hasil, uang tidak lagi tetap sebagai sarana untuk memberikan persyaratan. Melainkan berubah menjadi keinginan yang kuat untuk melaksanakan tujuan tidak manusiawi atau alat pemuliaan diri, yang dikutuk dari sudut pandang Islam. Hal ini di sini bahwa Islam dekrit pengikutnya untuk bersabar dengan menawarkan perlawanan terhadap pelanggaran dan penyimpangan kekuatan naluriah.
Contoh lain dari naluri manusia bisa menjadi cinta kekuasaan. Secara alami manusia mendambakan kekuasaan. Tentu saja mereka yang telah menerima kelemahan dan kerendahan hati sebagai elemen penting dari keberadaan mereka harus percaya bahwa mereka telah menyimpang dari sifat manusia yang ditugaskan. Islam, dalam hal ini juga, menggunakan pendekatan yang sama seperti halnya untuk menangani semua keinginan naluriah lainnya.
Di satu sisi upaya dan usaha di jalan mencapai kekuasaan telah dipuji sebagai sesuatu yang diinginkan dan diizinkan, dan dalam keadaan tertentu bahkan dianggap sebagai wajib. Ya! Islam menganggap listrik yang dibutuhkan di mana diperlukan untuk menetapkan kebenaran, untuk pelaksanaan kewajiban sosial yang penting, untuk pemulihan hak-hak yang hilang dari pemilik yang sah mereka, dan untuk pelaksanaan perintah-perintah ilahi dan keputusan. Dalam kasus ini Islam telah membuatnya wajib bagi semua umat Islam untuk mendapatkan kekuasaan.
Jalan ini naluri terhadap agresi dan ambisi telah ditutup dalam Islam. Ketika naluri cinta untuk hasil listrik di tirani, penindasan, kekerasan dan kejahatan buas, ini telah dikutuk sebagai tindakan yang tidak diinginkan dan terlarang.
Hal ini dimungkinkan bahwa hubungan dengan seorang tiran yang kuat atau dengan organisasi yang merusak dapat membawa daya yang cukup untuk orang yang ambisius, tapi Islam tidak pernah sanksi seperti asosiasi, karena tindakan bergaul dengan seorang tiran adalah dukungan langsung untuk memperkuat tirani. Keseimbangan kekuasaan yang hasil dari asosiasi semacam ini bertanggung jawab untuk komitmen kejahatan.
Berikut ketetapan-ketetapan Islam dan Al Qur'an berada dalam konfrontasi langsung dengan ledakan dan pengalihan naluri manusia dan menutup jalan bagi mereka. Kaum muslimin diperintahkan untuk berjuang dan memberikan perlawanan terhadap motif dari jenis cinta kekuasaan, yang mengakibatkan kerusakan dan korupsi, dan jangan pernah menyerah untuk tiran ambisius tersebut, yang berarti kesabaran melawan dosa.
Ada banyak contoh lain dari naluri seperti keinginan seksual, cinta untuk ketenaran, cinta untuk hidup, dan lain-lain, yang bisa juga juga diperiksa, sehingga pemahaman yang lebih baik tentang persoalan individu dan sosial penting.
Pentingnya Kesabaran terhadap Sin
Dalam terang ini diskusi singkat dan dalam pandangan tradisi dan pembelajaran Islam yang pada umumnya penuh dengan pendidikan sosial, dapat disimpulkan bahwa kesabaran terhadap dosa dan pelanggaran telah diberikan kepentingan khusus.
Menurut tradisi singkat berurusan dengan keadaan khusus dan memberikan pelajaran konstruktif untuk Muslim berusaha periode dari imam maksum, ini cabang kesabaran telah dianggap sebagai dukungan penting dan telah diberikan hak khusus. Mungkin mungkin karena menawarkan kesabaran dalam ketaatan adalah sesuatu yang disertai dengan keinginan alami (insting) yang ada dalam manusia, naluri alam yang sama yang bertanggung jawab untuk tindakan dan upaya.
Sementara di sisi lain untuk dapat menahan keinginan untuk hiburan, dan tidak menyerah pada atraksi menarik dari berbagai hambatan, yang penuh dengan diinginkan wisata alam dan manis, adalah bidang kesabaran melawan dosa. Dalam hal ini tidak hanya satu yang tidak didukung oleh atraksi alam dan insting, bukan satu bertindak dalam arah yang berlawanan.
Oleh karena itu, kesabaran berlatih dalam ketaatan meskipun berarti berjuang melawan naluri alam (Catatan kaki: Naluri ini merupakan bagian dari struktur manusia yang nyata, walaupun pelanggaran dan penyelewengan adalah sesuatu yang tidak wajar dan tidak diinginkan yang harus dilawan oleh manusia) tempat-tempat seperti keinginan manusia untuk kemudahan dan kenyamanan, namun disertai dan didukung oleh yang lain naluri alam, namun lemah. Tapi kesabaran terhadap dosa atau pelanggaran terhadap hukum Allah, dalam dan langsung konfrontasi total dengan semua atraksi naluriah alam dan kesenangan, dan karenanya semacam ini perjuangan lebih sulit dan karena itu telah ditetapkan hak khusus.
Juga, kesabaran terhadap dosa-dosa berperan menentukan sejauh urusan sosial yang bersangkutan dan karena dampaknya relatif lebih mencolok, ini bisa menjadi alasan lain untuk menetapkan hak khusus semacam ini kesabaran.
___________________________________________________________________________
Referensi
Sumber-sumber berikut ini digunakan untuk menyiapkan artikel di atas. Beberapa hyperlink mungkin tidak masih aktif.
1 Sayyid. Ayatollah Ali Khamene'i, Discourse on Kesabaran  
http://www.islam-pure.de/imam/books/patiance.htm

Minggu, 20 Februari 2011

Hikmah: Kasih Rasul

 
Hikmah: Kasih Rasul
Ilustrasi
Oleh Nur Faizin

Masyarakat jahiliah adalah masyarakat yang beringas, barbar, dan bersikap keras. Kebanggaan mereka  adalah ketika mampu menyelesaikan segala permasalahan dengan kekerasan dan peperangan. Mereka merendahkan klan yang kalah, lemah, dan sering kalah dalam peperangan. Kuda, pedang, dan anak laki-laki yang kuat merupakan simbol yang dibanggakan masyarakat jahiliah di zaman Rasulullah SAW.

Dalam kondisi seperti itulah Rasulullah SAW diutus Allah SWT untuk mengubah fenomena kekerasan dengan kasih, mengubah kebencian dengan sayang, dan peperangan dengan perdamaian. Rasul menegaskan, "Allah SWT hanya memberikan kasih sayangnya kepada hamba-hambanya yang penuh kasih." (HR ath-Thabrani).

Merupakan kesalahan jika Islam dipersepsikan sebagai agama keras atau mengajarkan kekerasan. Begitu juga tindakan-tindakan sebagian pemeluknya yang dapat mencoreng wajah santun dan lemah lembut Islam. Dalam kitab Mizanul Hikmah Imam al-Baqir pernah berkata, "Agama (Islam) ini tidak lain adalah cinta."

Al-Aqra` ibn Habis at-Tamimin suatu hari melihat Rasulullah SAW mencium kedua cucunya, Hasan dan Husain. Dia heran kemudian berkata kepada Rasulullah, "Aku adalah orang yang punya sepuluh anak, namun aku tidak pernah mencium satu pun di antara mereka." Rasulullah SAW kemudian menjawab, "Sesungguhnya orang yang tidak punya kasih sayang tidak akan dirahmati (Allah SWT)." (HR Ahmad dan lain-lain).

Al-Aqra` melihat bahwa kelembutan dan kasih sayang hanya tumbuh dari sifat tak berdaya dan kehinaan. Padahal, kekuatan dan kebesaran yang sesungguhnya adalah jika sesorang mampu menampilkan kelembutan dan kasih sayang. Kelembutan dan kasih sayang itulah justru yang mampu menjadi metode ampuh dalam berdakwah dan menyelesaikan permasalahan. Rasulullah SAW pernah bersabda, "Kelembutan yang ada dalam segala sesuatu akan menyeimbangkannya, dan kekerasan dalam segala sesuatu akan memperburuknya." (HR Muslim dan lain-lain).

Rasulallah SAW mampu mengganti fenomena kekerasan dan keberingasan masyarakat jahiliah zaman itu dengan kasih dan kelembutan yang diberikan oleh Allah SWT kepada beliau. Dengan kelembutan itulah dakwah beliau berhasil. Firman Allah SWT: "Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." [QS Ali Imran (03): 159]

Bangsa kita seharusnya mampu menjadi bangsa yang santun, punya kepedulian dan rasa kasih sayang kepada semua orang yang membutuhkannya, termasuk orang-orang yang membutuhkan bimbingan keagamaan karena akidahnya yang sesat. Berdakwah kepada mereka seharusnya dilakukan dengan santun dan penuh kebijaksanaan (bil hikmah) lalu didukung perkataan baik (mauidhah hasanah) atau dengan dialog (mujadalah). Wallahu a`lam.

Sabtu, 19 Februari 2011

Lisan Terjaga Kebatilan Sirna


.
Lisan Terjaga Kebatilan Sirna
 
 
 Oleh Yusuf Assidiq

Lidahmu adalah harimaumu, begitu kata pepatah. Ini mengandung makna betapa besar dampak dari setiap ucapan yang terlontar. Tak sedikit orang yang terjerumus ke jurang masalah karena mengatakan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Dalam kaitan ini, agama Islam telah memberikan rambu-rambu.

Pada dasarnya, ucapan maupun perkataan merupakan cerminan jiwa. Maka itu, Nabi Muhammad SAW berpesan pilihlah kata-kata yang baik. Dalam hal ini, beliau merupakan teladan terbaik. Setiap saat, Rasulullah senantiasa menggunakan kata yang baik dan halus untuk umatnya.

Sebaliknya, beliau menjauhkan kata-kata yang jelek, kasar, dan keji. Bahkan, Rasulullah sangat membenci jika ada kalimat yang digunakan tidak pada tempatnya yang sesuai. Misalnya, ada kalimat yang baik dan bermakna mulia namun diucapkan kepada orang atau sesuatu yang sebenarnya tidak berhak menyandang kalimat itu.

Juga sebaliknya, jika ada kalimat jelek dan berarti hina, diarahkan untuk orang atau sesuatu yang mulia. "Janganlah kalian memanggil orang munafik dengan panggilan tuan karena jika dia memang seorang tuan, maka dengan panggilan itu kalian telah membuat Tuhan kalian murka." Demikian sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud.

Selain itu, umat diminta menjaga ucapan yang mengandung syirik. Seperti ucapan, "Aku meminta pertolongan kepada Allah dan kepadamu." Sesuai tuntutan Rasulullah, mereka yang mengucapkan kalimat-kalimat semacam itu berarti telah menyekutukan atau sepadan bagi Allah SWT.

Dalam buku Berakhlak dan Beradab Mulia, Contoh-contoh dari Rasulullah,  Saleh Ahmad asy-Syaami menambahkan, kalimat bernada mencela juga sebaiknya dihindari. Peringatan itu juga disampaikan oleh Rasulullah melalui hadis yang diriwayatkan Bukhari, Muslim, dan Muttafaaq'alaih.

Rasulullah mengatakan, "Allah SWT berfirman, 'Anak keturunan Adam menyakiti-Ku, karena mereka mencela masa, padahal Aku adalah Zat yang menciptakan dan menguasai masa. Aku yang mempergantikan malam dan siang.'' Asy-Syaami menyatakan, perkataan yang mencela melahirkan kesalahan besar.

Menurut dia, celaan yang diucapkan itu sebenarnya akan mengenai diri mereka sendiri. "Mereka telah berkata hal-hal yang tak patut," paparnya.

Asy-Syaami melanjutkan, ucapan-ucapan yang tak baik sama sekali tidak mendatangkan manfaat apa pun. Justru sebaliknya, menjerumuskan seseorang ke jalan kebatilan. Tak hanya itu, ucapan yang buruk itu juga mendatangkan perpecahan dan pertikaian antarsesama.

Termasuk yang perlu dijauhi adalah berkata bohong. Islam tidak memberikan keringanan bagi umatnya yang berbohong. Ibn Qayyim dalam kitab al-Fawa'id mengingatkan umat agar berhati-hati terhadap kebohongan. Sebab, kebohongan akan merusak cara pandang umat terhadap fakta yang sebenarnya.

Menurut pandangan Mahmud al-Mishri melalui bukunya Ensiklopedia Akhlak Muhammad, seorang pembohong akan menyifati sesuatu yang nyata dengan sesuatu yang abstrak dan menyifati yang abstrak dengan yang nyata. Selain itu, mereka menyifati kebenaran dengan kebatilan demikian pula sebaliknya.

Rasulullah melalui hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim mengatakan, kebohongan akan menggiring pelakunya pada kejahatan dan kejahatan akan menjerumuskan ke dalam neraka. Mari kita jauhkan diri kita dari api neraka dengan menjaga lidah kita.